Esquire Theme by Matthew Buchanan
Social icons by Tim van Damme

21

May

I am deeply dissapointed with Tapas Movida!

To whom it may concern, 

Perkenalkan nama saya Salena Basoeki. Hari Jumat lalu saya sekeluarga datang dan makan di Tapas Movida untuk makan malam. Berharap dengan harga menu yang tidak murah kami mendapatkan servis yang baik dan makanan yang enak, sayang saya salah duga.

Berikut hal-hal yang membuat saya dan keluarga kecewa: 
1. Waiter/ess tidak menginformasikan bahwa waktu pembuatan spanish rice cukup lama (diatas 30 menit). Ketika datang kami sangat lapar dan tapas yang dipesan tidak cukup mengganjal perut. Oh ya, tidak semua orang Indonesia akrab dengan konsep tapas, waiter pun tidak menjelaskan bahwa porsi yang disajikan kecil dan hanya sebagai semacam appetizer. Waiter sungguh tidak atentif dengan keadaan kami, padahal suasana restoran saat itu tidak ramai. 

2. Waitress tidak mau memutar untuk mengantarkan minuman sesuai pesanan tamu. Malahan ia memberikan minuman untuk diestafet oleh tamu. Maaf, menurut saya ini tidak sopan dan kami sudah bilang padanya untuk memutar tetapi tidak dihiraukan. 

3.Rasa spanish rice tidak seenak yang saya bayangkan dan tidak layak untuk ditunggu. Nasi tidak matang merata, beberapa kepala udang tidak matang, kaldu tidak terasa dan kurang garam. Maaf bukannya menghina,  tapi ibu saya bisa masak yang lebih baik dari ini. 

4. Ini yang membuat saya dan keluarga sungguh jengkel. Ketika akhirnya spanish rice datang, waitress tidak mau memutar dan malahan menaruh piring yang panas tersebut dekat 2 keponakan saya yang berusia 2 dan 5 tahun. Ibu saya hampir membentak si waitress karena ucapan kami agar ia memutar tidak dihiraukan. Malahan ketika kami suruh ia memutar, ia beralasan bahwa ‘susah karena sempit’. Bayangkan kalau piring tersebut tersenggol anak kecil.

Di akhir santapan, kami disodori bill senilai 1,2juta, dengan sekitar 200 ribu untuk servis. Sungguh menyesakkan harus membayar tagihan dengan jumlah tersebut, terlebih dengan service charge yang tidak sesuai kenyataannya. Sebagai perbandingan, dengan harga yang sama saya bisa pergi makan ke Toscana dimana makanannya dan layanannya jauh lebih baik, meski dengan tax & service senilai 20%. Saya pernah menjadi responden mystery shopper, dan dengan kualitas yang  seperti ini bisa dipastikan bahwa restoran ini mendapat rapor merah. 

Tapas Movida, you need a lot of room for improvements, especially on your services. For sure, I am not coming back. 


NB: If you want this letter of complaint to be translated in English, I will be happy to do so. Jika surat ini tidak mendapatkan balasan/tanggapan, saya akan meneruskan surat ini ke Surat Pembaca Kompas (atau media cetak lainnya).





Regards, 
Salena Basoeki

09

May

Maju tak gentar, membela yang benar.

Tadi malem kita sekeluarga mengalami kejadian random yang kita pikir ga akan kejadian juga: ‘ribut’ sama marinir. Begini kronologisnya:

Bude dari pihak suami yang lagi berkunjung ke Jakarta ngajakin kita ngumpul karena dia hanya sebentar disini dan besoknya harus ke Surabaya. Kita bertemu di D’Cost Kemang. Ternyata Bude dan keluarganya duduk di dekat lorong masuk restoran, jadi kalau ada orang berdiri banyak disitu memang agak menghalangi.

Nah, disinilah kejadian itu mulai. Mertua gue dan bude kangen-kangenan dan agak menghalangi jalan. Ternyata di belakang kita ada 3 orang berpotongan kayak tentara (yang belakangan kita tahu mereka marinir) yang ngga sabaran dan ngomongnya engga enak. “Arisan kok di tengah jalan!”. Suami dan adiknya yang kebetulan mendengar juga ngga terima, ditegurlah si marinir ini. Suami ngomong baik-baik sambil menepuk bahunya “Itu orang tua saya, masa sama orang tua engga sabar?”. Nampakya si marinir ini engga terima, dan temannya pun ikut ‘ngomporin’.

Ketika suami ke kamar mandi akhirnya diikutin dan ditanya dengan bahasa tubuh yang menurut gue cukup mengintimidasi (btw gue yang lagi di kamar mandi keluar karena mendengar percakapan ini). “Kesini sama siapa Mas?” “Sama keluarga saya yang tadi” jawab suami. “Lain kali jangan gitu ya blablabla (ga jelas dengernya karena suasana restoran yang ramai) sambil mengeluarkan pisau lipat tentara (bentuknya serrated alias bergerigi tapi ukurannya kecil). Suami gue tenang aja karena sebenernya dia engga lihat jelas pisau tersebut karena kacamatanya penuh rintik air. Gue yang lihat dengan jelas kalau dia bawa pisau.

Akhirnya kita sekeluarga makan jadi engga tenang. Kenapa? Karena si marinir ini ternyata tidak sendiri; ada sekitar 20an teman-temannya.

Kebetulan sepupu yang polisi mendengar ini dan inisiatif memanggil ketua rombongannya. Setelah ngobrol, dia menjamin kalau kita bisa pulang dengan tenang. Dan untuk berjaga-jaga, bude pun memanggil temannya yang polisi militer untuk menjaga keluarga…just in case. Ketua rombongan tersebut juga diajak ngobrol dengan polisi militer dan bude. Alhamdulillah, masalah selesai dan nobody got hurt.

Moral of the story:

Pertama: Kita sebagai sipil seharusnya dilindungi oleh pihak tentara, bukan sebaliknya. Apalagi hanya gara-gara masalah sepele ini dia harus mengeluarkan pisau. Buat apa? Kalau mau ribut, secara skill pasti kita kalah dan dia ada teman-temannya yang siap membantu sementara dari pihak kita sebagian besar perempuan dan anak-anak. Dan kita sebagai sipil pun berhak membela diri, terutama jika kita tidak berbuat salah. Gimana kalau kita engga punya ‘back-up’? Tanya identitasnya (pangkat, markas, jabatannya) dan jangan segan melapor! Masih segar dalam ingatan kita kejadian koboi Palmerah yang nembakin pistol cuma karena dia diserempet motor. Alasannya? Yang naik motor badannya lebih besar jadi dia perlu membela diri. TOLOL!!!

Kedua: Dengan siapa pun dia berhadapan, tidak perlu bertindak arogan hanya karena masalah yang kecil. Gimana kalau yang disenggol anak jendral? 234? Anaknya pengacara top? Dia bisa jadi abon cumi habis digamparin sama body guard atau orang-orang yang lebih punya otoritas/pangkat yang lebih tinggi. Kalau mereka memang marinir sejati, tunjukin sikap ksatria! Daripada ribut soal nenek-nenek, mending jagain perbatasan dari musuh negara, ya engga? Coba ini kejadian dibalikin ke dia, pastinya dia engga mau juga kan? Yang begini aja dia berani, coba dia berhadapan dengan kasus yang lebih besar dan tanpa teman-temannya, gue yakin dia ciut nyalinya.

Jangan biarkan emosi menutupi akal sehat kita. Berani karena benar kawan!

04

May

Pentingnya berbahasa Inggr…eh…Indonesia

Inspirasi nulis ini datang dari iklan yang dikritik masyarakat: “Anak-anak sekarang kok berbahasa Inggris ya? Engga bangga dengan bahasanya sendiri?”

Seperti yang kita tahu, kurikulum sekolah sudah banyak berubah dengan memasukkan bahasa Inggris sebagai bahasa wajib yang harus dikuasai. Padahal ya, kalau dilihat dari penggunaannya terutama dalam kehidupan sehari-hari bahasa ini ngga maksimal dipakainya. Masa iya sih kita berkomunikasi dengan masyarakat sekitar pakai bahasa Inggris? Sedihnya lagi, banyak orang tua bangga banget kalau anaknya bisa bahasa Inggris, padahal interaksinya sehari-hari dengan baby sitter, supir, dan orang-orang lain yang tidak mengerti bahasa global ini. Sekilas informasi aja, di Australia bahasa kita banyak peminatnya lho!

Dan jujur, pastinya kita lebih menghargai bule yang mau belajar bahasa kita kan? Selayaknya ‘tamu’ yang tinggal di negara kita, sudah sewajarnya kalau si tamu yang belajar bahasa kita, bukan sebaliknya. Sebagai contoh, instruktur di gym gue ekspatnya sebagian besar orang Amerika Latin, yang notabene bahasa utamanya adalah Spanyol atau Portugis. Meskipun mereka juga fasih berbahasa Inggris, tapi frase-frase bahasa Indonesia yang dipelajari mempermudah komunikasi dengan para murid (baca: kita yang lagi ngos-ngosan) dan pasti membuat kita senyum-senyum dengan logat khasnya.

Kalau bukan kita sendiri yang menghargai bahasa dan budaya kita, terus siapa? Mudah-mudahan generasi muda yang jadi penerusnya :)

29

Feb

Eurotrip: Expect the Unexpected!

Pertanyaan orang-orang adalah: “Ngapain gue ke Jerman, pas musim dingin pula?” Begini ceritanya….

Rencananya udah lama, tepatnya dari akhir tahun lalu. Budenya Yayang nawarin kita berkunjung ke hometownnya yaitu Frankfurt dan syaratnya cuma satu yaitu low season. Awalnya ngga ditanggapin serius, tapi gue bilang sama hubbeh, kapan lagi kita bisa kesana? Kalau tahun depan sudah hamil pasti susah traveling (alesan! Heheheh) dan kita juga jarang ketemu beliau. Akhirnya diputuskan kalau kita akan datang pas winter (Januari brrrr) dan karena Yayang juga belum pernah liat salju hahaha….

Anyway, this trip has to happen. Why? Karena kantor baru ternyata memberikan izin untuk unpaid leave selama 10 hari! Yippie! Padahal karena pindah kantor dan tadinya malah mau break kerja karena kirain ngga bisa.

Next one is applying for Schengen visa via German embassy. Which is not the hardest thing to do (compare to the American embassy) because we have everything we need to go through German….except we did the picture wrong, twice! But eventually, we went through this and get the visa exactly the same date with the ticket ;(

There’s a slight change also to the itenary, meaning that we have to stay a night at Kuala Lumpur. But that’s cool anyway because I never been (spend the night that is) in KL.

26-27 January: Jakarta – Kuala Lumpur

Kita sampai tengah malam dan pas tiba di desk  untuk registrasi transport ke hotel pas banget mobilnya baru saja pergi! Huhuhu…akhirnya kita berdua bengong-bengong aja selama 1.5 jam, mana resto tutup dan harus puas beli minuman dingin di vending machine. Setelah menunggu sekian lama, akhirnya datang juga itu mobil dan supirnya nyetir kayak orang gilaaaa! Dan ternyata…hotelnya jauh juga, sekitar 1 jam dari airport di daerah Seremban. Jam 2 atau 3 pagi kayaknya kita baru tidur.

Bangun-bangun sudah jam 10 dan setelah foto-foto norak di sekitar hotel kita berangkat ke KL naik kereta. Murah sih cuma 8 RM tapiiii…speednya sesuai dengan harga murahnya hehehe. Ada kali 1.5 jam juga ke kota. Sampai di KL Central, kita dijemput sama Om gue yang sudah sabar nungguin karena sudah lewat waktunya makan siang. Berangkatlah kita ke daerah Bangsar makan di rumah makan India yang self-service. Kali ini gue acungin jempol karena harga, rasa dan porsi berada dalam combo maut: enak, murah, besar!

Karena waktu yang terbatas juga, akhirnya kita minta dianterin Om ‘pusing-pusing bandar’ alias keliling kota sight seeing. I am surely amazed with KL! Orang Indonesia sibuk menghina Malaysia, yang dihina santai-santai aja. Ya terang aja mereka mengganggap remeh, negaranya dibangun. Lah kita??? (ya sudahlahhhh)

Balik ke hotel, kita berdua masih sempet mandi and just in time turun dan langsung naik mobil mini bus menuju KLIA. We’re flying with Malaysia Airlines and very happy with it! Berhubung flightnya red eye alias tengah malam, kita tetap dapat supper yang bikin perut happy: tenderloin steak full set with salad, bread and dessert :D

28 -29 January: Frankfurt am Main

I managed to sleep in the plane, but hubby only sleep 3 hours ;( We arrived at -2°C in the airport and went through the immigration easily. Thank God Bude Dewi & Om Anil pick up us! Oh iya sekedar informasi, buat ngambil kereta kudu masukin 2 euro (yang nanti kalau kereta dibalikin koinnya keluar lagi, ceritanya biar disiplin gitu).

Begitu keluar, udara dingin menyerbu sampai ke tulang (untung dibawain coat), padahal kita cuma nyebrang ke mobil… anyway, sampai di rumah kita ngobrol-ngobrol sebentar, istirahat, makan siang steak ukuran koboi terus molor sampai malam!

Malamnya kita jalan-jalan di Frankfurt naik mobilnya Akil, anaknya Om Anil. Ternyata, it’s a very typical European weekend dimana kebanyakan toko tutup (malam Minggu masih ada beberapa yang buka meski ngga sampai malam), jadi hari Sabtu adalah hari terakhir orang-orang keluar. Hari Minggu? Quiet like a cemetery.

Kayaknya winter belum lengkap tanpa makan daging…anget soalnya! Tadinya kita mau ke restoran Jerman tapi rame dan ngga ada tempat parkir, akhirnya malah makan di restoran Turki. Hell, Anatolia ain’t got a squat on this place! We order a bbq plate perfect for sharing that includes: pizza, pita bread, chicken, sish kebab, grilled lamb, lamb chop, rice and salad!

The next day, it’s a lucky Sunday for us. Jadi mall-mall disini itu rolling buka setiap hari Minggu dan setiap 4 bulan (untuk daerahnya, and yes, 4 months!), sampai jam 7 malam saja loh. Oo, baru tahu! Jadilah kita berangkat ke mall tsb, dimana harus belain parkir jauh biar ngga ribet muter cari parkir yang di dalam mall. Masalahnya adalah…jalan di udara dingin itu sangat menyiksa. Belum lagi pakai-copot coat dan sweater kalau mau berangkat dan sampai di mall.

Bener kaaan, 1 Frankfurt itu tumplek blek di mall! Tapi tenang aja, serame-ramenya Frankfurt, masih lebih rame Mall Ambassador kalo Lebaran. Berhubung norak dan winter sale masih ada ekornya, kita serbulah H&M hehehe…

30 January: Frankfurt – Volendam

On Monday, we are totally clueless about where we’re going. Dan ternyata yaaa, gue dan suami baru tahu kalau mau ke Volendam – Paris – Brussels karena konfirmasi hotelnya baru ok last minute.

So, we’re road tripping with a rental car, a VW Passat equipped with a very precise GPS and arrived at Volendam pretty much midnight. We stayed at Spaander Hotel, an old-fashioned fisherman style hotel that was very well maintained.

The next morning, it’s a chilly day but we managed to walk around the pier and do some shoppiiiing….and let’s not forget to take picture in a traditional Dutch clothes back in the days! In the afternoon, we headed to Edam in search of their finest cheese and just to know that they’re closed on winter. GUBRAK! Untung ada 1 toko yang buka, itu pun diserbu sama turis (kita dan orang Kanada kayaknya). 

After  cheesing around, we grab an early dinner at Dam Hotel, a gothic style hotel. And the food was…enaklah pokoknya. Stomach full, now it’s time to go to Paris.

31 January : Volendam – Paris

Jarak antar Negara memang ngga terlalu jauh , cuma 5 jam via jalan darat. Hebatnya lagi sekarang, di perbatasan pun ngga ada pos pemeriksaan paspor kayak jaman dulu (jadi inget film National Lampoon’s Europe Vacation hehehe), lurus-lurus-cuss aja. Sampai di Paris, suasana berubah; yang tadinya bersih cling di Belanda, sekarang rada ‘kumuh’…bienvenue Paris!

Hotel kita namanya keren…well, anything in French sounds cool anyway…Namanya “La Pavillion Republique”. Ciamik bukan? Kenyataannya, hotel ini interiornya jadul dan keciiiiillll banget, tapi di depannya pas ada metro. Tiba tengah malam, kita pun harus ‘pasrah’ dengan kasur yang mblesek dan kamar mandi yang mentok kiri-mentok kanan. Untungnya, gue langsung bisa molor hehehe…

First thing in the morning, kita beli roti dan croissant di bakery seberang hotel, ngopinya di kafe sebelahnya. Owh, eike langsung kangen rasanya! Di bakery itu pilihannya segrambreng dan harganya sangat terjangkau: cheese sandwich cuma 2 euro, croissant gede isi nutella cuma 1.60 euro dan yang juara adalah eclairnya yang besar dan enak (gimana ngga gendut cobaaa). Agenda hari ini ngga banyak: Eiffel Tower dan Louvre aja.

Eiffel Tower: Lantai 1 aja kok!

Sebenernya gue ngga terlalu tertarik liat Eiffel, maksudnya asal bisa foto background pun cukuplah. Tapi tindakan ini tidak didukung oleh kedua tante, jadilah kita harus naik, sementara mereka nungguin dibawah (curang!). Tiket untuk naik all the way to the top 10 euro, sementara kalau sampai lt.1-2 7 euro aja (lupa).

Okay, here goes two youngsters that think they can conquer the Eiffel! But wait, whaa…the elevator is broken? We have to take STAIRS? Are you kidding me? Yap, kita naik tangga sampai ke lantai satu dan saya yakin itu setara dengan 20 lantai gedung (lebay). Sumpah capek banget, tiap naik 3 lantai kita berhenti ambil nafas dan belum lagi anginnya kenceng banget di atas sana!

Tepat di lantai 1, ternyata ada kafe dan ‘museum mini’ tentang sejarahnya Eiffel. Ya sudah, berhubung faktor u tidak bisa bohong, mengasolah kita berdua dari kejamnya udara dingin di luar. Makanan disini cukup mahal, contohnya soup setara 300 ml 6 euro, crepe tipiiiis banget 3 euro, dan masih banyak lagi makanan yang mahal (dan tidak halal pula hehehe). Setelah badan hangat, baru deh kita jalan-jalan lagi muterin lantai 1. Sudah puas, kita turun dan makan siang di kafe yang waiternya cantik-cantik. Sekedar info, cewek-cewek disini emang stylish dan langsing-langsing; kita aja yang perempuan seneng ngeliatnya. Beda banget sama cewek Jerman besar nan sangar :p

Dari Eiffel, kita ‘berpetualang’ lagi ke Louvre bermodalkan nanya-nanya dan baca peta. I’m amazed by Paris’ train system! Mau kemana aja nyampe kok! Kereta setiap 4 menit ada, dan metro itu letaknya sudah pasti strategis. Oh iya, tiket harian kereta bisa dipake juga buat naik bus lho! Tinggal pilih aja mau naik yang mana. Makanya di Eropa (dan dimana pun yang transportasi umumnya bagus) orang-orangnya selalu on time soale ngga ada alasan buat telat.

Louvre: Never ending story of art and history of human kind

Kereta berhenti pas dibawahnya Louvre, dan sekarang Louvre juga ada shopping mallnya. Tiket masuknya ngga mahal, Cuma 10 euro, dan kalau mau sewa audio guide cukup bayar 6 euro.

Louvre was amazing! Sayang banget kita hanya 3 jam disitu (sampai tutup), itu pun ternganga-nganga dan ada yang kelewatan. Gue ngga akan cerita banyak disini, mending liat fotonya aja ya hehehe http://www.facebook.com/media/set/?set=a.10150611415484823.397408.636969822&type=3. Oh iya, Islamic Arts section lagi direnovasi dan baru buka bulan September (hiks) padahal salah satu tempat yang kita pengen lihat juga.

Kelar dari Louvre, kita rencananya mau ke Notre Dam yang ngga jauh dari situ, cukup naik bus sekali. Eh udah di bus nih, gerejanya kelewatan dan kita terlalu malas (dan lapar) buat balik lagi kesana. We ended up in a Greek restaurant along the road (many restaurants to choose btw), and it was delicious! 

Kejadian bodoh adalah ketika pulang kita ngga menghafal nama stasiun waktu berangkat, jadilah kita muter-muter sampai 3 blok dan 1 jam kemudian baru sampai di hotel. Udah gitu, ngomong nama jalannya musti bener, kalo ngga itu Parisian ngga ngerti (atau pura-pura ya?). Nanya 3x sampek monyong-monyong mulut gue baru pada ngerti. Huh!

1-2 Februari: Paris Day 2 – Sacre Couer & Montparnasse – Brussels 

Let’s start the adventure again! Hari ini kita ngeliat Sacre Couer, salah satu gereja tertua di Paris dan jalan-jalan di Montparnasse. Gerejanya keren, dan sebenernya ngga boleh motret di dalam (lebih ke arah mengganggu ibadah sih) tapi tetep aja banyak yang curi-curi. Oh iya, hati-hati di luar banyak orang gypsy yang minta-minta!

Di Montparnasse, banyak banget hiburan dewasa, ehm if you know what I mean ;;) sah-sah aja kalau mau nonton tapi bayar lho. Kita mah pelit! Tapi begitu ngelewatin Musee D’erotism, langsung mampir! Huahahaha…. Museum ini isinya ngga jauh-jauh dari urusan selangkangan, tapi displaynya sungguh rapi dan menarik. Daripada saya repot cerita, mending langsung liat aja gambarnya http://www.facebook.com/media/set/?set=a.10150611574299823.397423.636969822&type=1.

Oh iya, ngga lupa dong foto depan Moulin Rouge yang tersohor itu! Tapi jangan coba-coba nonton cabaret disini kalo ngga punya duit, 175 euro paling murah buat dinner + show!

Tadinya selesai jalan-jalan kita mau langsung ke Brussels, tapiiii…ternyata Paris itu macet juga kalau rush hour! Jadilah kita makan malam dan lihat-lihat di mall yang terkenal ituh, Lafayette! Disinilah orang Asia berbondong-bondong beli tas LV (yang katanya setengah harga) dan Long Champ kayak beli tas kw Mangga Dua. Sampai rela antri di luar toko loh!

Kelar makan malam dan nunggu macetnya Paris reda, baru deh kita berangkat ke Brussels.

2-3 February: Brussels – Frankfurt

Di Brussels, kita jalan-jalan setengah hari di alun-alun kota, ngeliat gedung EU, beli coklat dan masih sempet-sempetnya juga belanja baju hehehe. Tapi coklatnya emang beda ya sama coklat murah huhuhu. At exactly 2 PM, kita langsung kabur menuju Frankfurt, dan masih sempet-sempetnya belanja di Aldi (borong abis bak supermarket sweep).

We’re just in time for dinner could you believe that! Hours ago, we were on a different country!

So it’s time to celebrate Maria & Jeremy’s birthday with good food and some good old family time, topped with mbak Putri’s home made birthday cake…Yeah life is good!

4-5 February: Frankfurt – KL – Jakarta

Yep it’s time to go home! Whew it felt so soon for 10 days but too bad we couldn’t stay longer. Yaaa sedih deh….harus kerja lagi *ehm*. We really owe Bude, Om Anil, Tante Vita, Maria,Putri, Akil & Meita something J.

The flight went smoothly and food was great as usual. Dan gue pun deg-deg ser bawa 1 koper penuh isi makanan ngelewatin bea cukai dan bisa ngacir dengan sukses! Tiba di rumah, engga lama setelah makan siang, kita tidur kayak orang mati huehehehehe….  

It was a short trip, but lasted forever in our memories.

For pictures, click:  http://www.facebook.com/media/set/?set=a.10150591078349823.394220.636969822&type=3

 

 

 

 

 

01

Jan

Le Event: Namaste Festival 2-4 December 2011

Selesai sudah gue membantu event yoga & wellbeing berskala internasional, Namaste Festival 2011. Gimana rasanya? Capek luar biasa tapi senangnya juga luar biasa :) 

This is my first professional event ever, biasanya gue jadi EO amatiran cuma ngatur kumpul-kumpul temen-temen kerja ataupun acara kampus kecil-kecilan. 

Meskipun acara berlangsung lancar, tentunya masih jauh dari sempurna. Bayangin, panitia cuma berdelapan, itu pun terdiri dari 4 founder dan 4 staff (minus satu karena adiknya lagi kawinan pas hari h). Kerjaan ini ternyata membutuhkan stamina yang kuat karena harus begadang nungguin faculty datang dari airport, assist check in, nanya mereka butuh apa (ini berlangsung sampai acara tentunya)…nah kalau acara sudah kelar nanti kita yang giring mereka supaya engga ketinggalan pesawat! Padahal gue pengen banget ikut kelasnya, sayang engga ada tenaga karena harus bolak balik venue-hotel yang ada kali 100 meter luasnya huhuhuh…

In general, para faculty ini ngga terlalu nyusahin, tapi ada aja kelakuannya yang ajaib. Ini baru guru yoga loh, ga kebayang deh kalo selebriti :p 

Misalnya, ada yang bawa gf yang (mungkin) umurnya setengah dari umur doi terus sibuk ciuman disana-sini (sumpah gue liat n jijay banget), ada yang ISTI tapi sayang anak, ada yang suka anti sosial bagaikan biksu, ada yang ngebom tagihan, ada yang suaranya mirip bobby chin, ada yang tengil dan masih banyak lagi kelakuannya yang bikin geleng-geleng kepala. 

Jujur gue rada sebel sama pilihan LOnya. Malu-maluin banget event internasional LOnya ga bisa bahasa Inggris, nyari barang engga usaha, dan engga inisiatif dalam bertindak. Salah satunya adalah gue akhirnya nemenin faculty belanja ke GI sebelum doi ciao pulang ke Australia. 

Jadi berhubung kelas terakhir selesai jam 6, dan setelah ngajar berjam-jam si bapak ini belom makan apalagi mandi, jadinya gue ngeburu-buru dia karena kamarnya harus check-out. Dia sempet-sempetnya mandi kilat dengan nyemplung di kolam renang dan bilasan di shower pinggir kolam! Dan yang lebih ngenesin lagi, tangan kirinya patah gara-gara jatuh dari rock climbing jadi gerakannya mau ga mau rada lama. 

Kelar check out, kita mau naik taksi pun harus ngantri dan akhirnya nyamber mobil sewaan (yang kalau diitung-itung beti juga sama taksi) dan meluncur menuju GI. Dalam waktu kurang lebih 90 menit, gue (dan suami yang menyusul) nemenin si bapak muter-muter. Dan dalam waktu yang singkat itu juga dia ngabisin 1.3 juta buat beli baju anak-anaknya (awww so sweet banget ya, secara anak-anaknya baru umur 4 & 5 tahun). Yang lucunya lagi, si bapak ini udah matanya jelek ga mau pakai kacamata, jadilah setiap turun eskalator dia celingak celinguk hahahaha!

Untung aja everything worked out fine, dia ngga ketinggalan pesawat, gue juga lega kerjaan beres :) Percayalah, si bapak ini hanyalah satu dari sekian drama faculty.

Anyway, senin pun gue balik lagi ke hotel buat beres-beres barang, 2 hari ini libur and 2 hari lagi terakhir masuk. Special thanks to Mba Nia yang udah ngasih kerjaan ini ke gue (tau gitu dari September mbaaakkk) dan kudos to Ayu yang managed to do everything to the last detail…tanpa marah-marah hehehe….

Ehm, kerjaan ini rada bikin benci tapi rindu juga :p 

Akhir kata, kesempurnaan hanya milik Allah dan siapa tahu tahun depan gue bakalan eksis lagi…

Namaste!

28

Dec

nothing beats…

mom’s oxtail soup when you’re hungry n tired from work! ga kebayang gw ntar kalo tinggal berdua doang sm hubbeh…mmmm…gw masak sendiri dong! (anak manjaaaaa!).

24

Dec

Good News is…

Remember back then when CH offered me the job? Well, I got the job! Wow this year has been an unexpected year with so many ups and downs. Jadi begini ceritanya…temen gue wawancara di CH dan dia ngga bisa ambil tawaran ini karena masih kontrak di tempat lain. So, dia berilah nomor telepon gue, dimana kebetulan gue juga lagi di tengah-tengah ngurusin event. Tadinya gue mau santai-santai aja cari kerjanya, nunggu pulang dari Jerman di awal Februari. Pucuk dicinta ulam tiba (kayaknya peribahasa ini kurang tepat yeh), datanglah job offer ini, dan mereka negotiable dengan cuti gue. So I’m with them now. Plus, one of my best friend will join too next month J

So how was it?

It was a bit of a shock…dalam artian gue masih gegar budaya dan tentunya mencoba menyesuaikan dengan keadaan kantor yang ternyata SIBUK BANGET YAAAA :p Anyway, gue juga nyemplung di salah satu account tersibuk yaitu susu anak-anak. Baru kerasa kalau pulang cepet adalah anugerah dan mau libur aja masih lembur hahahaha :p

 I have a great team, and hopefully will improve as time goes by.

X-BC Pre Xmas Party

Okay does the sound of the headline reminds you of a x-rated whateverkindof movie? Well if you do, I am most certainly still the supir trek… :p Anywaaay, finally after weeks of planning a reunion and replying hundreds of messages and confirmation on facebook, it finally happen! Although only 13 (out of somewhat 30-40) people came, but it’s still a party right? Ternyata masih bisa ketemu temen-temen (dan nyelain temen lain berjamaah wkwkwkwk) emang bikin happy and wish we go back together again in time (well….minus the bosses).

06

Dec

mah new samsung!!!

finally bought samsung y young cdma! i am totally new with them small keypads but hopefully gonna learn fast!!! this is what u called affordable yet decent gadget, cucok menggantikan bb saya ketika tidak mau diganggu O:-)
oia, suami jg beli buat gantiin hpnya yg very non reliable hehe…

28

Nov

Just wondering…

Apakah kerja di advertising harus…

Main instagram?

Punya produk apple?

Hobi motret?

Punya gadget canggih?

Beli baju di bright spot market?

Nongkrong di Union?

Smoke?

Just a thought :)